Kejutan Piala Dunia Antar Klub Dari Arab
Berada di kota Al Ain yang cantik, kesebelasan ini jadi yang tersukses dalam riwayat liga lokal UEA. Mereka raih keseluruhan 32 piala di semua persaingan, Slot Judi Online 13 gelar liga, enam Piala Presiden, tiga Piala Liga, satu Piala Teluk Arab, lima Piala Super, dan yang terpenting ialah juara Liga Champions Asia 2003.
Sebetulnya pada tahun 2005 dan 2016 Al Ain bisa jadi menambahkan catatan gelar Liga Champions Asia. Sayang dewi fortuna belum memihak ke mereka. 2x masuk final dan 2x juga mereka kalah.
Untuk sepakbola UEA, support kerajaan sebagai peran penting dalam sebuah perubahan kesebelasan, tidak kecuali saat tersangkut Al Ain.
Semenjak awalnya berdiri, kesebelasan ini sudah terima "perawatan" Slot Online Terpercaya yang stabil dari kerajaan. Antara figur kerajaan yang terpopuler ialah Sheikh Khalifa Bin Zayed Al Nahyan, penguasa dan bekas Presiden UAE, yang sebagai presiden honorarium kesebelasan.
Orang kerajaan pertama kali yang tiba ialah Sheikh Sultan Bin Zayed Al Nahyan, Wakil Pertama Menteri, yang pimpin barisan kesebelasan pada 1970-an. Saat itu juga Al Ain merampas gelar liga pertama kalinya pada musim 1976/77.
Selanjutnya tiba Letnan Jenderal Sheikh Mohammed Bin Zayed Al Nahyan, kepala staff Angkatan Membawa senjata UEA pada tahun 1979, yang duduk sebagai presiden kesebelasan sesudah pemerintah perintisnya usai.
Beberapa pemain Al Ain sudah tahu kualitas pelatih mereka, Zoran Mamic. Strategi Mamic tentu saja akan berperanan penting untuk lanjutan penjelajahan mereka di Piala Dunia Antar-klub.
Satu hari saat sebelum laga menantang Tim Welington, Ahmad Barman telah percaya jika kesebelasannya akan hadapi salah satunya antara Real Madrid atau River Plate.
"Kami berperan serta dalam kompetisi ini sebagai dari hasil usaha keras musim kemarin," katanya dikutip lewat Khaleejtimes. "Dan saat ini kami semua berkemauan untuk memperlihatkan kekuatan kami. Al Ain telah terbiasa di persaingan internasional, kami akan usaha keras untuk sebagai wakil UEA dengan penuh kehormatan dan kebanggaan."
Benar saja, di laga esok harinya, Al Ain berhasil raih kemenangan lewat sinetron beradu sepakan penalti. Al Ain sebetulnya hampir saja tersisih misalkan Marcus Berg tidak cetak gol.
"Saya mengharap untuk lakukan yang terbaik dan mengganti semua kesempatan menghasilkan gol. Kami akan berusaha untuk raih gelar," kata Berg.
Scuad Al Ain musim ini kelihatannya memanglah bisa disebutkan pantas untuk berkompetisi di ajang Internasional. Ditambahkan lagi, semangat yang membara tertancap pada diri beberapa pemain. Di scuad Al Ain ada beberapa nama seperti Berg, Tongo Doumbia, Bandar Al-Ahbabi, dan Tsukasa Shiotani. Di barisan belakang, Ismail Ahmed dan Mohanad Salem jadi unggulan Al Ain di liga.
Tentu saja Marcus Berg akan pimpin gempuran, dan memang seharusnya begitu. Pemain dari Swedia ini sudah cetak 10 gol di dalam 11 laga musim ini. Berg dikenali kuat di muka gawang. Ia disokong oleh Hussein El-Shahat dan Ciao yang cepat serta lebih berteknik.
Peranan Doumbia untuk jaga kedalaman baris tengah Al Ain juga dapat dihandalkan. Menurut TransferMarkt, Doumbia telah terdaftar sekitar 105 kali bermain sebagai pemain tengah bertahan. Dan kisah hidupnya yang berpengalaman di sepakbola Eropa menjadi aspek khusus untuk beberapa pemain Al Ain.
.jpg)